Tampilkan postingan dengan label Life Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life Story. Tampilkan semua postingan

Kisah Pecandu Narkoba dari Lapak Eungkot Masen

Posted by sulthan on Sabtu, 02 Januari 2016

“Itu masa-masa paling kelam dalam hidup saya,” ujar Andi (bukan nama sebenarnya) singkat membuka kisahnya.

“Teuma ta preh le siat. Nyoe teungoh lon peu pisah bileh leubot ngon kareng tho (Tapi tunggu sebentar. Saya pilah-pilah teri yang masih agak lembab dengan yang sudah kering dulu),” sambungnya lagi.

Sabtu siang (17/5/2015), Andi tengah melakukan rutinitasnya sebagai penjual ikan asin di emperan sebuah toko kelontong di pasar kota kecamatan pesisir Kabupaten Pidie Jaya. Tangannya asyik menyortir kareng tho (teri kering) dari sebuah keranjang rotan untuk kemudian dimasukkannya dalam sebuah kantong plastik biru. Dengan cekatan ia memilah-milah bilis kering yang tumpukannya mengerucut ke atas seperti bentuk gunung.

Andi (38) adalah seorang ayah dari dua orang anak. Bekerja menjadi penjual ikan asin sejak 2012. Ia adalah seorang bekas pecandu narkoba. Sekaligus bekas pengedar barang haram yang telah mengalami masa-masa paling buruk dalam hidupnya. Hari itu, di antara lalu lalang orang-orang di pasar kecamatan, Andi membeberkan pahit getir hidupnya selama menjadi pecandu dan pengedar narkoba.

Usai memilah-milah teri kering, Andi bergegas. Keluar dari lapak jajaan ikan asinnya menuju sebuah warung kopi. Ada dua meja yang ditata membentuk huruf L di lapaknya. Berbagai jenis ikan asin tersusun rapi di atasnya. Ada tenggiri, teri kering, bileh leubot, dan beberapa jenis ikan lainnya yang semuanya telah diasinkan. Baunya khas. Menguar menusuk hidung.

Andi kembali ke lapaknya dengan membawa dua gelas kopi. “Han paih ta peugah haba meunyo hana kupi, (Tidak asyik ngobrol tanpa kopi),” ujarnya sembari menyodorkan segelas kopi. Kini ia duduk kembali di lapaknya, menyulut sebatang rokok, bercerita, sambil sesekali menyeruput kopi.

“Lon ka ku piep bakong mulai glah 2 SMA, (saya sudah mulai nge-ganja sejak kelas II SMA),” ujar Andi memulai kisahnya.

“Tapi ya itu. Jika saya ceritakan masalah ini, pikiran saya akan balik lagi ke masa-masa paling pahit dalam hidup. Masa paling celaka dalam hidup. Namun tidak masalah. Kadang cerita saya ini bisa jadi obat untuk orang-orang lain. Setidaknya bisa diambil iktibarlah,” sambung Andi lagi.

Andi adalah anak semata wayang bagi sepasang suami istri yang hidup mapan di sebuah kota kecamatan. Ayahnya yang bekerja sebagai pegawai negeri di kantor camat adalah seorang keturunan Ampon (Teuku, istilah bangsawan Aceh) yang memiliki beberapa petak sawah dan kebun di beberapa kampung. Ibunya juga pegawai negeri, bekerja di Puskesmas kecamatan. Bagi Andi, kedudukan dan pekerjaan dua orang tuanya, adalah anugerah hidup yang secara finansial bisa dinikmatinya sekehendak hati.

Pertengahan 1990-an, ketika sepeda motor masih agak jarang berseliweran di kota kecamatan, Andi sudah memiliki sepeda motor pribadi. Tidak tanggung-tanggung, ia dibeli orang tuanya, satu unit sepeda motor bebek keluaran terbaru, Kawasaki Kaze. Masa itu, sepeda motor yang sudah agak umum hanya sebatas merk Honda Astrea. Maka memiliki Kawasaki Kaze, yang body, kecepatan, dan tampilannya terlihat lebih wah dari yang lain, adalah tongkrongan yang melejitkan prestis Andi dalam pergaulannya.



“Kawasaki Kaze itu dibeli ayah sebagai hadiah saat saya naik kelas II SMA dengan meraih rangking II. Masa nyan meu soe-soe sinyak yang ek honda. Peu lom di ek honda merek Kawasaki Kaze, (Masa itu tidak sembarang orang punya sepeda motor. Apa lagi punya sepeda motor Kawasaki Kaze)” kenang Andi.

Namun, sepeda motor yang dihadiahkan orangtuanya sebagai penghargaan dan motivasi baginya untuk terus berprestasi di sekolah, malah mengantarkan Andi masuk dalam dunia ‘lain’. Sejak kelas II SMA, sejak memiliki sepeda motor pribadi, Andi mulai meluaskan pergaulannya. Teman-temannya sudah tidak lagi sebatas teman-teman sekolah yang sekaligus menjadi teman mengaji dan teman main bolanya sehari-hari. Ia sudah bergaul dengan teman-teman di kecamatan lain. Bahkan hampir tiap minggu ia pulang pergi ke ibukota kabupaten yang jaraknya sekitar 30 menit mengendarai sepeda motor. Ia bolak balik ke sana tidak lain kecuali sekadar nongkrong dengan teman-temannya yang baru

Jangkauan pergaulannya yang semakin luas dengan mengandalkan hadiah orangtuanya itu adalah titik balik bagi hidup Andi. Keluarga mapan, yang mengelukan anak laki-laki semata wayangnya yang sejak SMP telah menoreh banyak prestasi. Seperti menjadi gelandang inti tim sepakbola junior kecamatan, peserta cerdas cermat mewakili sekolah dan TPQ dalam berbagai perlombaan, anggota tetap grup dalail khairat yang saban bulan maulid mendapat undangan meudikee di kampung-kampung, mulai meredupkan sinarnya sejak saat ini.

Sejak sepeda motor di tangan, seperti penggalan lirik lagu pengamen cilik yang sempat heboh di media sosial, Andi sekarang bukan Andi yang dulu lagi. Andi dengan Kawasaki Kaze-nya yang mentereng sudah melebarkan langkahnya dalam pergaulan-pergaulan yang sedikit lebih bebas tenimbang sebelumnya. Jika sebelumnya tak pernah menghisap rokok, kini sudah mulai mencoba-coba menghisapnya. Alasannya saat itu, untuk menghargai teman-teman lain yang merokok ketika nongkrong.

Tidak tanggung-tanggung, pertama sekali masuk dalam dunia barunya ini, Andi langsung mencoba ganja. Bukan rokok. “Waktu itu, ya, saya kelas dua SMA. Saya mulai sering nongkrong di kota kabupaten. Di sanalah pertama sekali saya menghisap. Bukan hisap rokok. Tapi langsung hisap ganja,” terangnya sambil menyungging senyum.

Lantas, bermula dari coba-coba, sebagai alasan untuk menghargai pemberian gratis teman-teman barunya yang hampir semuanya nyimeng (hisap ganja), Andi mulai terlibat dalam dunia ganja. ‘Karir’ Andi dalam dunia bisa dikatakan narkoba berawal dari sini.

Namun, Andi yang memang sejak kecil dididik oleh dua orangtuanya yang berpendidikan, ‘kegiatan’ barunya di kecamatan lain, dan di ibukota kabupaten tidak mempengaruhi prestasinya di sekolah. Setidaknya sampai ia duduk di bangku kelas III, rangkingnya masih selalu masuk dalam lima besar tiap caturwulan.

“Kelas III SMA, saya sudah mulai kecanduan. Kalau pertamanya saya nyimeng masih di luar kecamatan sendiri, kelas III SMA saya mulai gabung dengan anak-anak di kampung-kampung tetangga. Waktu itu, ayah dan ibu tidak pernah curiga. Saya masih dapat rangking di sekolah. Kecuali memasuki cawu II, nilai rapor saya sudah mulai anjlok. Untung saya bisa lulus SMA,” kenang Andi.

Setamat SMA, Andi sudah benar-benar larut dalam dunia barunya. Ditambah lagi dengan diterimanya ia di sebuah kampus negeri di Banda Aceh, membuat Andi semakin leluasa melebarkan sayapnya.

Andi candu. Telah menjadi pencandu. Sehari tidak nyimeng, sakaunya tidak ketulungan. Dan itu harus segera dilampiaskan. Persoalan dari mana ia dapat ganja tak pernah jadi masalah baginya. Kiriman biaya kuliah dari orangtuanya ditambah alasan biaya ini-itu untuk keperluan kuliah tiap bulannya membuat Andi tak pernah kehabisan uang untuk pemenuhan kebutuhannya itu.

Semester-semester awal kuliah, Andi masih berkutat dengan ganja. Ia melewati hari-harinya dengan teman-teman yang semuanya terlibat dalam dunia ganja. Sampai kemudian, oleh temannya yang datang dari luar mengenalkan jenis barang haram lain kepadanya: Putaw. Jenis narkoba yang dipakai dengan cara menyuntik ke urat nadi si pemakai.

Putaw adalah ‘makhluk’ yang membuat Andi semakin terjerumus. Dengan barang ini kehidupan Andi makin terpuruk. Kuliahnya kian terbengkalai. Dengan putaw, sakaunya jadi berlebih. Hari-hari tanpa putaw adalah hari-hari jahanam. Perih. Itu sebabnya, ia semakin berusaha mendekatkan diri dengan para pengedar, berhutang pada mereka, yang secara tidak sadar menuntutnya untuk terus mengantongi dana segar setiap waktu. Di sini, Andi mulai bersiasat. Kuliah bukan lagi fokus utamanya. Bahkan uang untuk pembayaran iuran semester ia jadikan modal jualan ganja. Keuntungan dari jualan gelapnya tidak lain untuk bisa membeli putaw pada pengedar lain.

Tahun 1997 Andi ‘resmi’ menanggalkan almamater kuliah. Uang iuran semester yang dikirim orang tuanya dari kampung, telah ia gunakan jadi modal awal untuk kelak ia menjadi salah satu bandar ganja di lingkungan kampus. Semua itu tentu saja tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya.

“Semester V, saya benar-benar nekad. Uang yang dikirim dari kampung buat bayar SPP malah saya gunakan sebagai modal beli ganja untuk kemudian saya jual lagi. Waktu itu, saya benar-benar seperti orang yang telah hilang kesadaran,” ujar Andi lirih.

Sejenak Andi terpekur setelah mengisahkan awal mula ia putus kuliah. Rokok yang terjepit di antara jari tengah dan jari telunjuk diputar-putarnya sekian menit lamanya. Andi terdiam. Lapak tempat ia berjualan ikan asin sejenak senyap, seperti sebuah adegan slow motion dalam film. Tapi sekawanan lalat yang berdengung terbang dan hinggap di atas tumpukan ikan asin membuyarkan lamunannya serta menghentikan putaran rokok di kedua jarinya. Dengan cepat ia hela kawanan lalat itu menggunakan sebatang tongkat kecil yang di ujungnya diikat daun pisang yang telah digerut dalam helai-helai kecil.

Dua orang wanita yang dari penampilannya bisa ditebak adalah ibu-ibu muda, berhenti di depan lapak Andi. Kepada calon pembeli ikan asinnya Andi tersenyum ramah. Dengan sabar ia menawarkan barang dagangannya sambil mengibaskan seliweran lalat yang masih berterbangan di sekitarnya.

“Nyoe Buk, bileh leubot. Meunyo ta crah cukop meurasa. Abeh bu ubena buet yah si agam meunyo keunong bileh teu crah. Hana muhai, Buk. Limong ribe rupia saboh tumpok. (Ini Bu, teri setengah kering. Cocok ditumis. Habis nasi tak terkira sama si Bapak di rumah kalau tumis teri jadi lauk. Tidak mahal, Bu. Rp5000 setumpuk),” terang Andi pada pelanggannya.

Si ibu muda yang ditawari Andi terpikat. Dua tumpuk teri setengah kering itu dibelinya untuk dibawa pulang. Temannya satu lagi tampak termangu. Memandang lekat ke wajah Andi tanpa sekalipun menoleh tempat lain selama menunggu temannya bertransaksi. Barangkali ia bergumam dalam hati, “Orang seganteng ini kok mau jualan ikan asin, ya?”

Dari segi penampilan, Andi memang tidak cocok duduk di belakang lapak jualan ikan asin. Berkulit sawo matang, wajah tirus di padu hidungnya yang mancung serta jambang yang turun menyatu dengan jenggot dan kumis yang membingkai bibirnya, sekilas ia hampir mirip dengan wajah Muzakkir Manaf, Wakil Gubernur Aceh sekarang. Cara ia berpakaian pun, sama sekali tidak menunjukkan layaknya penjual ikan asin kebanyakan. Celana jeans dipadu kemeja lengan panjang yang dilipat sampai siku yang dipakainya siang itu menunjukkan ia cukup parlente untuk seorang penjual ikan asin.

Pelanggan yang singgah di lapaknya berlalu. Andi melanjutkan kisahnya, setelah memasukkan selembar uang Rp10.000 dalam kantong plastik kecil merah jambu. Ia seruput kopi untuk sekian kali. “Ya beginilah, cara saya cari nafkah sekarang. Banyak orang yang kenal orang tua saya kaget ketika melihat saya jualan ikan asin begini. Tapi untuk nafkah anak istri tidak ada istilah gengsi,” ujar Andi sambil menyulut lagi sebatang rokok yang baru.

Kisahnya berlanjut. Andi kembali bercerita bahwa fase ketika ia memutuskan diri menjadi bandar ganja adalah fase yang menjelaskan bagaimana dari sini ia semakin terjerembab dalam jurang keterpurukan. Fase ini sama halnya seperti dalam penggalan lirik lagu Dik Doank berjudul 180 Derajat; //Dulu olahragawan/sekarang bandar narkoba//Dulunya gemuk/sekarang junkies habis//.

Ya, masa ini, Andi telah meninggalkan semua hobinya yang dulu. Sepakbola, membaca, nongkrong di keramaian, sudah berganti dengan aktivitasnya yang tak jauh-jauh dengan dunia narkoba. Badannya yang dulu tegap berubah ceking, kurus kering. Ia sudah lupa bagaimana mengurus dirinya. Ia sudah jarang pulang ke kampung, pun jaraknya sekitar 170 km dari Banda Aceh. Orang-orang dekatnya telah menjauh, atau memang aktivitasnya itulah yang membuatnya menutup diri kepada siapa pun.

“Sejak main dengan barang suntik itu, saya sudah benar-benar lupa diri. Bisa dikatakan sudah tidak kenal siapa diri saya lagi. Jika sudah tak cukup uang untuk beli putaw, barang-barang dalam kamar kost jadi tumbal. Semuanya saya jual satu-satu,” kenang Andi.

Andi mengaku, walau pun ia telah ‘membuka usaha’ haramnya dengan menjual ganja secara diam-diam itu tetap saja uang yang dibutuhkannya tidak pernah cukup. Barang pertama yang ia jual adalah sebuah tape recorder merk SONY. Kemudian berlanjut ke barang-barang lain, mulai dari jam tangan, baju, celana jeans, hingga sepatu. Masa-masa ini ia sudah sering bolak balik Banda Aceh – Medan. Hampir setiap bulan ia pergi ke Medan. Di sana, ruang geraknya untuk ‘mengobati’ sakau terasa lebih bebas tenimbang di Banda Aceh. Di sana pula ia mengakrabkan diri dengan dunia malam. Narkoba juga menjerumusnya main perempuan.

Hari-hari yang digeluti Andi yang penuh dengan gelimang dosa itu kemudian menunjukkan imbasnya. Petaka yang tak pernah dipikirkannya mulai hadir dalam hidupnya secara bertubi-tubi. Tahun 2000 Andi dapat kabar dari beberapa temannya bahwa ia sedang dicari-cari polisi. Polisi sudah mengendusnya sebagai salah satu bandar ganja di kawasan kampus. Mendengar kabar buruk itu, tak ada jalan lain kecuali pindah tempat tinggal. Hari itu juga ia lari ke Medan.

Di sana dengan modal mengajinya dulu, ia tinggal sebuah surau menjadi semacam asisten bilal. Di surau ini, sesekali ia jadi muazin mengumandangkan waktu shalat tiba. Bahkan pada dua-tiga bulan pertama ia ngumpet di rumah ibadah ini Andi mengajarkan dalail khairat kepada anak-anak tingkat SMP selepas mereka mengaji. Apakah Andi sudah taubat? Tidak.

Lebih celaka, kebiasaan buruknya, sebab sakau dan butuh uang segar, Andi malah menggunakan kegiatan keagamaannya di sini sebagai modus usaha gelapnya. Surau ini ia jadikan tempat persembunyian sekaligus tempat menjalankan usaha haramnya. Mengandalkan koneksi dunia gelapnya, di surau ini Andi menyimpan ganja dan putaw di mana sesekali pelanggannya datang satu-satu membeli barangnya.

Namun, sepandai-pandai menyimpan bangkai, busuknya akan terendus juga. Sekitar tujuh bulan ia tinggal di surau itu, Andi ketangkap tangan sedang menjual ganja oleh polisi. Barang bukti sekitar setengah kilogram ganja yang dipacking rapi di bawah tempat tidurnya membuat ia tak bisa berkutik sama sekali. Melewati interogasi, pengadilan, akhirnya ia dijebloskan dalam penjara.

Penangkapan Andi adalah awal dari semua petaka. Ayahnya murka, sekaligus shock. Ibunya lebih-lebih. Kesehatan keduanya mulai terganggu mulai saat ini. Pengurusan pengadilan hingga penentuan vonis anak semata wayang mereka telah menggerus energi dan harta keluarga. Sepetak demi sepetak sawah dan kebun dijual untuk pengurusan pengadilan yang masa itu agak terbelit-belit.

Lantas vonis itu jatuh juga. Andi harus mendekam dalam penjara selama 7 tahun. Itu pun setelah urus sana-sini oleh dua orangtuanya yang menghabiskan banyak harta. “Penjara adalah neraka. Narkobalah yang menyebabkan saya masuk neraka dunia,” ujar Andi lirih.

Air muka Andi berubah ketika ceritanya sampai di fase ini. Mimiknya murung. Sesekali ia menunduk sambil menghisap rokoknya dalam-dalam. “Kau tahu? Selama di penjaralah dua orang tua saya meninggal. Tahun 2002 ayah saya meninggal karena sakit. Kemudian sebelum tsunami, awal Desember 2004 ibu saya juga meninggal,” terang Andi dengan mata berkaca-kaca.

Di penjara, Andi hanya bisa meratap. Dua orang tuanya yang meninggal hanya bisa didengar kabarnya tanpa bisa pulang untuk sekadar melihat pemakaman mereka. “Kiban lom lon peugah dosa lon nyoe. Dan nyan hana laen, cit ngon gara-gara narkoba nyan,” sambung Andi dengan mata berlinang.

Ceritanya terputus. Lama Andi terdiam sambil terpekur. Sesekali ia mengurut pelan keningnya. Pekurnya yang semakin dalam tanpa sedikit pun mendongakkan wajahnya untuk sekian menit lamanya jelas menunjukkan bagaimana Andi seperti menanggung dosa seumur hidupnya. Bahkan seorang calon pembeli ikan asinnya tidak ia acuhkan sama sekali.

“Allahu akbar,” ucap Andi lirih seperti ingin membuyarkan lamunannya sendiri. “Tujuh tahun saya dalam penjara akibat ulah saya sendiri. Imbasnya, jangankan untuk bisa melihat jenazah ayah-ibu saya untuk yang terakhir kali, menghadiri pemakamannya saja saya tidak bisa,” sambung Andi lagi dengan mata berbinar.

Andi mengaku saat mendengar kabar ibunya meninggal, ia seperti ingin bunuh diri saja. Sekian tahun di penjara, ia hanya bisa mengutuk diri sendiri. Menyesali hidupnya. Menyesali bagaimana ia telah berkhianat pada harapan dan kasih sayang tulus dua orang tuanya. Yang sekali pun ia telah berbuat nista, masih mau mengurusi tetek bengek urusan pengadilan sampai harus kehabisan harta mereka bahkan masih tetap mau menjenguknya di penjara saban bulan.

Tahun 2007 Andi bebas. Ia langsung pulang ke Aceh. Tapi tak langsung pulang ke kampung halaman. “Yang pertama saya pikirkan waktu keluar penjara tidak lain kecuali ingin cepat-cepat sampai di kuburan ayah ibu saya. Tapi bagaimana saya bisa berziarah jika cap pendosa masih tercetak di dahi saya?” ujar Andi.

Pertanyaan itu ia jawab sendiri dengan belajar agama di salah satu dayah (pesantren tradisional) di Lhok Nibong, Aceh Timur. Ia memilih menunda berziarah ke kuburan orang tuanya sebelum bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat. Tiga tahun belajar agama di dayah, Andi pulang kampung dengan sambutan cemoohan sanak kerabat dua orang tuanya. Bagi keluarga besarnya, ia adalah pendosa terkutuk. Narkoba tidak hanya berimbas pada dirinya sendiri, tapi dianggap sebagai sebab dua orang tuanya meninggal dunia, yang selama hidup mereka cukup dihormati di kalangan keluarga besar.

“Cemoohan famili dan orang-orang kampung adalah klimaks dari semua derita atas ulah saya sendiri. Bahkan saat saya berziarah ke kuburan ayah ibu pun saya pernah mendengar celetukan orang, ‘peu ka dipeulaku aneuk durhaka nyan bak kubu ma ngon yah jih (apa yang mau dibuat anak durhaka itu di kuburan ayah ibunya.’ Mendengar itu saya hanya bisa menangis,” kata Andi dengan linangan air di kelopak dua matanya.

Sejak saat itu, Andi membuat keputusan. Harta warisan orangtuanya yang tinggal dua petak sawah dan sepetak kebun ia wakafkan semuanya ke masjid pemukiman. Rumahnya orang tuanya ia jual, di mana sebagian besar uangnya ia bagikan kepada seluruh kerabatnya, ia sumbangkan ke masjid.

“Waktu itu, banyak orang curiga saya ingin membersihkan nama saya saja. Tapi saya serahkan itu semua pada Allah ta’ala. Yang jelas saat itu saya bertekad, saya akan hidup mandiri. Saya tidak akan tinggal lagi di kampung orang tua saya dan memilih tinggal di kota kecamatan ini,” terang Andi.

Setelah membuat keputusan yang tidak disangka-sangka oleh sanak keluarga dan orang-orang kampungnya, Andi pindah ke kota kecamatan. Perbuatan nista sebagai pecandu narkoba yang ia tanggalkan tetap menyisakan cemoohan dari orang-orang. Tapi dengan tekad bulat, memanfaatkan sisa uang hasil penjualan rumah orang tuanya ia berdikari dengan menjadi penjual ikan asin hingga saat ini. Hingga ia telah menjadi ayah bagi dua orang anak seperti sekarang, di mana di lapak ini pulalah ia pertama sekali mengulang kembali sejarah kelam hidupnya di dunia narkoba.

“Semoga cerita pahit saya ini bisa diambil iktibar bagi anak-anak muda sekarang,” kata Andi menutup kisahnya.[]

Oleh Reza Mustafa, Komunitas Kanot Bue.
Selengkapnya

Cerita ATS dari Sydney

Posted by sulthan on Sabtu, 25 Oktober 2014

Minggu lalu di Sydney saya sempat banyak berdikusi dengan teman saya dari BNN. Diskusi sambil lalu ini tentang kira-kira sekarang apa saja Drug Choice yang menjadi pilihan penyalahguna napza di Indonesia dan bagaimana trend kedepannya. 

Pada siang hari sebelumnya, saat kami sedang berada di fasilitas rehabilitasi di Sydney, saya sempat ngobrol-ngobrol dengan salah seorang pasien yang berwarga negara Somalia. Tahu sendiri kan Somalia terkenal dengan bajak lautnya. Juga kekerasan dan tindakan kriminal menjadi sangat umum di Somalia. Pasien atau klien ini seorang perempuan muda yang cukup cantik dan berumur sekitar 21 tahun. Klien ini datang ke Australia pada saat umur 15 tahun bersama kakak perempuannya. Pada umur tersebut dia sudah dikenalkan oleh kakaknya dengan “speed”, nama lain dari amfetamin type stimulants (ATS) yang di Indonesia populer dengan nama “shabu-shabu”.

Yang menarik adalah, setelah lima tahun menggunakan speed, dia merasa sering mendengar suara-suara tapi nggak ada orang nya. Nah lohhhh,….Dalam bahasa medis itu disebut dengan Schizophrenia. Teman saya dari BNN menimpali bahwa memang sekarang tren penggunaan napza di Indonesia adalah shabu-shabu. Kalangan artis sudah banyak yang menggunakannya. Kemudian dia mulai menyebutkan sejumlah nama artis Indonesia yang menggunakan Shabu. 

Saya jadi miris nih, bagaimana kondisi lima tahun kedepannya ketika banyak orang saat ini menggunakan shabu. Saya khawatir lima tahun lagi akan banyak orang dengan gangguan jiwa psikosis atau schizophrenia. Untuk itu dalam tulisan kali ini saya akan coba membedah tentang ATS atau amphetamine type stimulants lebih lanjut.

Amfetamin

Efek amfetamin hampir mirip seperti adrenalin namun mempunyai efek kerja yang lebih lama. Obat ini bekerja dengan cara yang mirip dengan kokain dimana akan membuat penggunanya merasa energik. Amfetamin bekerja dengan cara seperti adrenalin, yaitu sebuah hormon yang diproduksi secara alami dalam tubuh manusia. Zat ini di kalangan pengguna napza dikenal sebagai “upper” yang mana dapat menurunkan nafsu makan dan akan menyebabkan pengguna tidak mempunyai rasa lelah. Mengkonsumsi satu paket amfetamin akan memberikan efek langsung yang bekerja dalam waktu 15 sampai 30 menit. Apabila dihisap (snort) maka akan menimbulkan yang lebih cepat (5 hingga 10 menit). Apabila disuntikkan akan memberikan efek yang seketika dan langsung.

Bagaimana Amfetamin Mempengaruhi Otak?

Ketika seseorang menggunakan “upper”, zat tersebut akan merangsang sistem saraf pusat penggunanya. Zat bekerja pada sistem neurotransmiter norepinefrin dan dopamin otak. Menggunakan amfetamin dapat menyebabkan otak untuk menghasilkan tingkat dopamin yang lebih tinggi. Jumlah dopamin yang berlebih di dalam otak akan menghasilkan perasaan euforia dan kesenangan yang biasa dikenal sebagai “high.”

Seiring berjalannya waktu, orang yang menggunakan shabu akan mengembangkan toleransi terhadap zat amfetamin yang terkandung di dalam Shabu. Toleransi artinya seseorang akan membutuhkan dosis yang lebih tinggi untuk mendapatkan efek yang sama. Jika sejumlah dosis yang dibutuhkan tidak terpenuhi maka pengguna zat amfetamin akan muncul perasaan craving/withdrawal atau dikenal dengan perasaan sakaw.

Sensasi yang ditimbulkan oleh amfetamin

Sensasi yang ditimbulkan akan membuat otak lebih jernih dan bisa berpikir lebih fokus. Otak menjadi lebih bertenaga untuk berpikir berat dan bekerja keras, namun akan muncul kondisi arogan yang tanpa sengaja muncul akibat penggunaan zat ini. Pupil akan berdilatasi (melebar). Nafsu makan akan sangat ditekan. Hasrat ingin pipis juga akan ditekan. Tekanan darah bertendensi untuk naik secara signifikan. Secara mental, pengguna akan mempunyai rasa percaya diri yang berlebih dan merasa lebih happy. Pengguna akan lebih talkative, banyak ngomong dan meningkatkan pola komunikasi dengan orang lain. Karena seluruh sistem saraf pusat terstimulasi maka kewaspadaan dan daya tahan tubuh juga meningkat. Pengguna seringkali berbicara terus dengan cepat dan terus menerus.

Amfetamin dosis rendah akan habis durasinya di dalam tubuh kita antara 3 sampai 8 jam, Setelah itu pengguna akan merasa kelelahan. Kondisi ini akan membuat dorongan untuk kembali “speed-up” dan kembali mengkonsumsi satu dosis kecil lagi, begitu seterusnya. Penggunaan bagi social user dimana biasanya hanya menggunakan amfetamin pada akhir minggu biasanya menjadi tidak bisa mengontrol penggunaannya dan banyak yang berakhir dengan penggunaan sepanjang minggu penuh, mulai dari Sabtu ke Jumat, begitu seterusnya.

Efek Dari Amfetamin

Karena efeknya yang menimbulkan kecanduan dengan adanya toleransi dari zat yang dikonsumsi, maka zat ini juga akan menimbulkan efek secara fisik. Begitu seseorang telah kecanduan amfetamin, maka orang tersebut harus kembali menggunakan amfetamin untuk mencegah sakaw (withdrawal). Karena efek yang ditimbulkan amfetamin bisa boosting energi pada penggunanya, maka efek withdrawal yang paling sering muncul adalah kelelahan. Pengguna zat ini kemungkinan juga akan membutuhkan waktu tidur yang lebih lama dan sangat sensitif/mudah marah pada saat dibangunkan. Begitu efek obatnya hilang, pengguna yang tadinya tidak merasa lapar kemudian menjadi sangat lapar. Pada beberapa kalangan selebriti, penggunaan zat ini sering digunakan sebagai obat untuk menurunkan nafsu makan. Namun sebenarnya sama saja karena nafsu makan akan kembali meningkat setelah efek obatnya hilang. Itulah sebabnya banyak selebriti perempuan yang mati-matian menjaga berat badannya dan akhirnya berakhir pada kecanduan amfetamin.

Depresi juga merupakan efek withdrawal yang paling sering pada pengguna amfetamin. Pada kasus-kasus yang berat malahan dapat menimbulkan tentamen suicide (hasrat ingin bunuh diri). Karena efek depresinya ini terkadang pengguna dapat menjadi orang yang berlaku sangat kasar.

Efek Jangka Panjang

Selama jangka panjang, seseorang yang menggunakan amfetamin secara teratur akan menemukan tanda-tanda efek samping jangka panjang yang biasanya terdiri dari :
  • Pandangan kabur
  • Pusing
  • Peningkatan detak jantung
  • Sakit kepala
  • Tekanan darah tinggi
  • Kurang nafsu makan
  • Nafas cepat
  • Gelisah
Pada penggunaan zat terus menerus akhirnya akan menimbulkan gangguan gizi dan gangguan tidur. Pengguna akan lebih rentan untuk sakit apapun karena kondisi kesehatan yang secara keseluruhannya buruk.

Amfetamin Psikosis

Efek penggunaan jangka panjang bisa menimbulkan kondisi yang disebut dengan amfetamin psikosis. Gangguan mental ini sangat mirip sekali dengan paranoid schizophrenia. Efek psikosis ini juga bisa muncul pada penggunaan jangka pendek dengan dosis yang besar. Kondisi psikosis inilah yang tidak disadari oleh kebanyakan pengguna amfetamin. Karena efeknya baru muncul jangka panjang maka sering kali efek ini disalah artikan. Pengalaman dari negara-negara lain yang sudah lebih lama muncul penggunaan amfetamin, telah banyak korban dengan gangguan psikosis atau gangguan kejiwaan yang parah.

Tentunya Anda tidak ingin efek kesenangan sesaat dibayar mahal di kemudian hari bukan?

*Judul awal tulisan ini adalah Amfetamin = Shabu = Speed = Glass = Quartz = Hirropon ditulis oleh Bagus Rahmat Prabowo disitus link web.  
Selengkapnya

Bila Kekasih Seorang Pecandu Narkoba

Posted by sulthan

Pria yang menjadi pecandu narkoba rasanya tidak akan termasuk dalam tipe pria yang disukai kaum hawa. Apalagi masuk dalam kriteria menantu idaman. Tetapi bagaimana jika Anda baru mencurigai kekasih memakai narkoba di setelah hubungan berjalan sekian lama?

Ika (25), sudah dua tahun menjalin hubungan dengan Hendra (29). Pada awalnya tidak ada yang mencurigakan dari sikap Hendra, tapi lama-kelamaan Ika melihat tubuh Hendra makin kurus. Pria yang berprofesi sebagai manajer sebuah kafe itu juga tampak loyo, tak bersemangat. Ika mencurigai kekasihnya itu memakai narkoba, terlebih belakangan ini Hendra terlihat akrab dengan sahabatnya yang baru lepas dari pusat rehabilitasi narkoba.

Setiap individu berhak mengetahui kondisi kekasih apa adanya. Keraguan dan kecurigaan yang dialami Ika sangat rentan menimbulkan perpecahan. Itu sebabnya, daripada memvonis kekasih seorang pecandu, Ika perlu jujur dan terbuka mengungkapkan keraguannya.

A.Kasandra Putranto, seorang psikolog dari Kasandra Persona Prawacana, mengatakan, banyak tanda-tanda penyalah guna narkoba yang tidak semata-mata kurus dan kehilangan gairah saja, tergantung zat yang dikonsumsi.

Model kurus dan kehilangan semangat, jelas Kasandra, biasanya model downers, yakni pengguna heroin, atau putaw. Sedangkan model uppers, memiliki ciri energik, aktif, dan tak bisa diam. Jenis narkoba yang digunakannya adalah shabu-shabu atau ekstasi. Sedangkan model kurus tapi doyan makan dan suka melamun biasanya model halusinogen alias pengguna ganja atau hasish.

"Jika sudah curiga, Anda perlu menanyakannya. Tapi umumnya mereka akan menyangkal dan kalau pun mengaku mereka akan tetap berbohong atas perilaku adiksinya," papar Kasandra.

Bila kecurigaan Anda benar adanya, terimalah kenyataan apa adanya. "Sikap yang tepat adalah memberi kesempatan dan dorongan agar kekasih mau mengikuti rehabilitasi," ujar Kasandra. Bahkan bila perlu Anda juga bisa ikut mendampingi kekasih selama ia menjalani terapi dan rehabilitasi.

Tetapi, Kasandra menyarankan agar Anda menentukan sendiri berapa lama Anda akan memberinya kesempatan. "Bila memang tidak ada perubahan sebaiknya Anda juga berpikir tentang diri sendiri," katanya. Bila kekasih lebih suka berada dalam jeratan narkoba, berarti ia sudah sedemikian egoisnya, lebih memikirkan diri sendiri daripada Anda dan masa depannya. 


source
Selengkapnya

Selamatkan Pemakai, Hukum Mati Bandar Narkoba

Posted by sulthan on Minggu, 16 Juni 2013

Korban narkoba bukanlah penjahat, tetapikorban dari kejahatan orang lain. Korban narkoba bukan aib keluarga, tetapi bencana nasional.

Ungkapan di atas adalah refleksi pengalaman dan pemikiran HM. Kamaluddin Lubis, SH menangani korban narkoba yang adalah anaknya sendiri. Diakuinya banyak hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik sejak adanya musibah yang menimpa keluarganya. Usaha dan sikapnya saat ini, merupakan cermin dari sikap dan usaha yang dimiliki oleh putranya M. Baron Bahri Lubis (alm.) yang meninggalkan dirinya dua tahun yang lalu akibat jerat narkoba. Kamal, panggilan akrab Kamaluddin, menceritakan bahwa putra ketiganya sangat gigih dalam membantu teman-temannya yang mempunyai nasib seperti dirinya untuk sembuh dari jeratan narkoba. "Mungkin karena ia juga merasakannya," ungkap Kamal.

Kamal bercerita, putranya selalu meminta kepada siapapun agar jangan pernah ada pasien penyalahguna narkoba yang ditolak untuk direhabilitasi. Karena sikap anaknya itu pula, yang kian mendorong Kamal untuk lebih peduli terhadap para korban narkoba. la pun jadi lebih memahami dan menguasai permasalahan narkoba.

"Dia meminta agar jangan ada pasien yang ditolak untuk direhabilitasi walaupun orang tersebut kurang mampu. Mendorong saya untuk lebih banyak lagi membantu orang lain yang membutuhkan bantuan. Kemudian saya dapat berbagi pengalaman dan cerita dengan sesama keluarga yang mempunyai masalah narkoba. Dan ini membuat saya lebih banyak menguasai permasalahan narkoba. Hikmah lainnya saya sadar bahwa Tuhan lebih cepat mengambil anak saya karena Tuhan sayang sama dia dan ini membuat hidup saya lebih tenang. Dan kepedulian terhadap keluarga sendiri maupun keluarga besar kami pun jadi lebih tinggi," lirih pengacara asal Medan, Sumatera Utara ini menuturkan.

Awalnya Terkejut

Mulanya, Kamal sangat terkejut ketika mengetahui Baron ? begitu sapaan akrab putra ketiga dari empat anaknya - telah terperangkap dalam penyalahgunaan narkoba. Namun, lama-kelamaan Kamal dapat menerima kenyataan tersebut dengan lapang dada. Baginya, almarhum Baron adalah anak yang terbuka. la juga menilai, putranya memiliki sifat penggembira, dekat dengan keluarga, dan mudah bergaul tanpa membeda-bedakan miskin dan kaya.

Ditambahkan, Baron juga seorang anak yang aktif berorganisasi baik di lingkungan sekolah maupun luar sekolah. Menurut Kamal, almarhum anaknya sangat dekat dengan dirinya dibanding dengan ibunya. "Kami sering pergi berdua dan bercerita tentang segala hal. Dia juga sering curhat dengan saya," kenang pria yang genap berusia 66 tahun ini.

Diungkapkan, almarhum Baron pertama kali memakai narkoba ketika kelas tiga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Akibat dari pergaulan pula, menurut Kamal, anaknya terjerumus dalam kebiasaan tidak sehat tersebut. Saat itu Baron mulai mencoba kebiasaan merokok. "Lama kelamaan, ganja dicobanya. Hingga akhirnya shabu dan putaw," tutur Kamal.

Dirinya juga tidak setuju bila dikatakan bahwa penyebab sang anak bisa rerjerumus dalam dunia narkoba dikarenakan kesibukannya yang menyebabkan kurang perhatian kepada anak-anak. "Saya memang sibuk, tapi ibunya tetap di rumah untuk melayani keluarga. Kebersamaan dan kasih sayang selalu ada dalam keluarga. Kami selalu bepergian bersama ketika hari libur. Saya rasa itu tidak menjadi masalah bagi keluarga saya," tegasnya.

Iapun mengakui, pola pendidikan yang diterapkan dalam keluarga pun sebenarnya telah bisa untuk membentengi anak-anaknya dari hal-hal negatif. Dikatakan oleh Kamal, pendidikan yang ditempakan dalam keluarga adalah pendidikan yang bebas dan bertanggung jawab. Maksudnya, anak-anak diberi kebebasan dalam memilih segala hal, mulai dari pendidikan, cita-cita, teman-teman, dan kegiatan luar rumah. Namun, kata Kamal, semua yang dipilih hams dipertanggungjawabkan dengan benar. "Contohnya, saya hams dikenalkan dengan keluarga teman-temannya. Kemudian belajar dengan benar sesuai yang dicita-citakan," ujarnya lagi.

Lakukan Pendekatan

Setelah terkena narkoba, kata Kamal, sifat Baron memang sedikit berubah. Perbedaan fisik tidak ada, dan perbedaan psikis juga pada awalnya tidak tampak. Namun, lambat laun Baron jadi sering malas berkumpul dan bercerita dengan keluarga serta mulai menjauhkan diri dari aktivitas keluarga. "Emosinya suka berubah-ubah. Suka marah-marah tanpa sebab, suka berbohong dan menjual barang-barang pribadinya," tutur Kamal.

Setelah mengetahui anaknya telah terjerat narkoba, Kamal tidak menyalahkan ataupun memarahinya. Namun, ia langsung melakukan pendekatan yang lebih dalam. Kesibukannya sedikit demi sedikit dikurangi, dan ia lebih sering meluangkan waktu untuk berbincang dan membicarakan masalah yang dihadapi sang anak. Tidak sedikitpun perlakuan dirinya terhadap Baron berubah. Malah, ia lebih semakin dekat dengan Baron.

"Saya bersama keluarga saya selalu dekat komunikasi selalu aktif satu sama lain, karena itu sejak awal saya tidak pernah menyalahkannya. Sebab saya tahu dia memakai narkoba bukan karena dia adalah seorang penjahat, tetapi dia adalah korban dari kejahatan orang lain dan karena pengaruh dari teman-teman sekolahnya, sehingga dia mau terbuka dan berterus terang dengan saya sebagai orang tuanya," kenangnya.

Setelah usaha pendekatan dilakukan, almarhum Baron menjadi lebih terbuka dan menceritakan atas apa yang dia rasakan atas reaksi narkoba yang dipakainya. Dalam pendekatannya, Kamal memposisikan diri sebagai seorang sahabat. Alasan utamanya agar lebih merasa dekat dan terbuka. "Sehingga dia merasa diperhatikan, disayangi, dan tidak diperlakukan sebagai orang yang bersalah," jelas lulusan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) ini.

Usaha pemulihan Baron tidak dilakukan Kamal secara sendirian. Sikap isterinya, Hj. Retni Rengsih, SH., CN, diakuinya hampir sama dengan dirinya. Terlebih, sang istri tampak tenang dalam menghadapi musibah yang menimpa. Dengan cara bersama, masalah yang terjadi pun diselesaikan.

"Kami selalu berembuk untuk menyelesaikan permasalahan dan kami saling instropeksi diri mengapa anak bisa terjerumus menyalahgunakan narkoba. Pertentangan untuk saling menyalahkan satu sama lain juga diakui Kamal tidak terjadi sama sekali antara ia dan istri. Tidak ada yang saling menyalahkan. Kami saling instropeksi diri mengapa anak kami dapat terjerumus menyalahgunakan narkoba," papar pria yang kini mengabdi sebagai dosen di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU).

Empat Tempat Rehabilitasi

Diakui Kamal, usaha pendekatan yang dilakukan berjalan efektif. Selain menjadi lebih terbuka terhadap keluarganya, Baron dapat terbuka dengan orang lain untuk berbagi cerita. "Ketika saya ajak melakukan dialog interaktif/diskusi di TVRI Medan untuk berbagi pengalamannya ketika memakai narkoba dengan masyarakat, dia bersedia. Alasannya agar tidak ada lagi yang lain menjadi korban seperti dirinya. Ini membuktikan bahwa dengan metode pendekatan dan tanpa menyalahkannya yang saya lakukan berhasil. Karena semua treatment yang diberikan padanya dalam rangka pemulihan dari racun narkoba dilakukan dengan kesadarannya sendiri tanpa ada paksaan dari siapapun," aku Kamal.

Tidak hanya usaha pendekatan. Kamal juga melakukan upaya pengobatan lain bagi anaknya, termasuk memasukkannya ke panti rehabilitasi. Saat pertama kali menawarkan panti rehabilitasi, anaknya langsung menerima dan tidak menolak untuk berobat. "Dia tidak menolak untuk berobat. Malah dengan keinginannya sendiri Baron mau berobat ke panti rehabilitasi. Itu sangat membantu kami dalam proses pemulihannya." tutur Kamal.

Rentetan cerita panjang pun keluar dari mulut Kamal, tentang berbagai lokasi rehabilitasi yang disambanginya. Tempat pertama yang didatangi adalah pondok pesantren asuhan Abah Anom di Suryalaya, Tasikmalaya. Di tempat ini Baron menjalani terapi selama satu tahun lebih. Kamal mengakui, alasan dirinya membawa putra satu- j satunya ini ke Abah Anom karena tempat ini saat itu sangat terkenal untuk rehabilitasi korban narkoba.

Di tempat rehabilitasi pertamanya ini, Baron menjalani proses rehabilitasi putus total. Artinya, tanpa ada terapi substitusi obat-obatan lain. Pendekatan pengobatan secara spirirual dan keagamaan, sangat kental di Ponpes Abah Anom. "Disamping itu juga ada perawatan secara medis. Namun yang lebih ditekankan adalah pengobatan spiritual. Selama di sana dia termasuk pasien yang mendapatkan perlakuan khusus. Karena dia adalah anak yang aktif. Dia tidak sama dengan pasien yang lain, dia dianggap seperti keluarga sendiri oleh Abah Anom. Di sana dia semakin mandiri, aktif dalam melakukan hal-hal yang positif dan tentunya pengetahuan dan pengamalan agamanya semakin tinggi," ungkap Kamal bercerita.

Setelah itu, Kamal membawa sang putra ke Klinik Ketergantungan Obat "Poso" di Medan selama satu bulan. Baron juga sempat menjalani pengobatan hingga ke negeri tetangga Malaysia, yakni Pengasih selama satu tahun. Kemudian, terakhir kali Kamal membawa anaknya ke Sibolangit Centre yang juga menghabiskan waktu selama satu tahun.

Meski mengikuti berbagai usaha terapi dan rehabilitasi, almarhum Baron tetap menunaikan kewajiban pendidikannya. "Selama menjalani pengobatan, pendidikannya tetap berjalan. Sehingga ia masih memperoleh pengetahuan dan ilmu untuk masa depan." papar Kamal.

Ketika melakukan usaha rehabilitasi bagi putranya, satu kenangan abadi yang selalu diingat Kamal adalah rasa setia kawan yang begitu besar yang dimiliki oleh Baron. Menurut Kamal, Baron seakan tidak bisa sama sekali melepaskan relasi dengan teman-temannya sesama pengguna narkoba. Karena hal inilah semakin lama putranya makin terjerat dengan berbagai jenis narkoba. "Mungkin karena rasa solidaritasnya yang tinggi." simpul Kamal.

Lebih Tergerak di Bidang Narkoba

Peristiwa yang menimpa dirinya, diakui Kamal tidak mengubah pandangannya terhadap narkoba. Sebagai seorang yang bergerak di bidang hukum, sejak dulu dirinya telah tahu mengenai petmasalahan narkoba, terlebih mengenai bahayanya. Diakui Kamal, sebelum anaknya terlibat narkoba, dirinya telah berbuat banyak untuk penanggulangan masalah narkoba. "Saya sudah banyak informasi tentang itu (narkoba. Red) dan ikut menyebarkan informasi bahaya narkoba kepada masyarakat." ucapnya. Namun, motivasi untuk berbuat lebih banyak lagi dalam bidang penanganan masalah narkoba kian terdorong setelah anaknya menjadi korban penyalahgunaan narkoba. Atas dorongan putranya pula, dirinya tergerak untuk mendirikan sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang P4GN (Pencegahan Penanggulangan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba) yang bernama Yayasan Gerakan Anti Narkoba dan sebuah tempat rehabilitasi bernama Sibolangit Centre.

Dengan semangat Kamal pun berpesan kepada para orang tua. Menurutnya, bagi orang tua yang mempunyai anak yang telah terjerumus narkoba, jangan pernah putus asa dalam proses pemulihan mereka. Sebab, bagi Kamal seorang anak yang telah terkena pengaruh narkoba harus diselamatkan dan berhak mendapatkan jati dirinya kembali dengan bantuan dan dukungan dari orang tua. Sebaliknya, penggalian informasi yang benar tentang narkoba dan gejala-gejalanya sejak dini, merupakan hal yang harus diketahui bagi orang tua yang anaknya belum menjadi korban narkoba.

Sebagai orang yang bergelut di bidang hukum, dirinya pun mengkritik pata penegak hukum yang terjebak dalam pasal-pasal yang kering sehingga mereka menganggap bahwa korban narkoba adalah penjahat yang harus dihukum. Di masyarakat sendiri, tambah Kamal, masih banyak yang belum paham tentang permasalahan narkoba. Banyak yang memandang, korban narkoba merupakan aib bagi keluarga yang harus ditutup-tutupi. "Meteka penjahat, sampah masyarakat, dan pemakai narkoba hanyalah anak orang kaya." ketus Kamal akan persepsi yang salah tersebut dengan sedikit kesal.

Bagi Kamal, permasalahan narkoba merupakan masalah yang harus didahulukan dan ditangani secata serius sesuai dengan hukum dan undang-undang narkoba yang berlaku di Indonesia. Kata Kamal, dirinya ingin mengubah pandangan masyarakat dan lembaga pengadilan bahwa sebenatnya pemakai narkoba itu bukanlah penjahat.

"Mereka korban kejahatan orang lain dan harus diselamatkan. Jadi terdapat perbedaan dan klarifikasi antara pemakai murni, pengedar dan bandar, sehingga vonis yang dijatuhkan sesuai dengan perbuatan meteka. Seorang bandar harus dihukum mati karena mereka adalah pembunuh tanpa berdarah, dan seorang pemakai harus diselamatkan karena merupakan korban dari kejahatan orang lain," pesannya tegas menutup perbincangan. (SADAR BNN September 2006 / Adi KSG IV)


Selengkapnya

Hidup Itu Indah

Posted by sulthan

Bagiku hidup itu adalah sebuah perjuangan spiritual. Apa tujuan hidupku? Mati! Tapi bagaimana aku setelah mati? Dulu aku percaya setelah kematian, hidup kita sudah berakhir. Tidak ada lagi hidup. Tapi kini aku berubah, aku yakin dan percaya, bahwa Tuhan benar-benar menciptakan surge dan neraka. Tapi hidup kitalah yang memilikinya. Perjalanan yang bagaimana? Hanya kita yang bias menciptakan.

Namaku Rafa (bukan nama yang sebenarnya). Perjalanan hidupku sangatlah buruk karena salah memilh. Aku dulu, adalah aku yang sombong. Kekuatanku adalah uang dan kesuksesan, jika anda dalam posisiku, pasti akan meraksakan betapa nikmatnya hidup dan betapa mudahnya mencari uang dan kesuksesan.

Aku juga seorang yang suka membaca dan buku apa saja dengan lahap kubaca. Mulai dari buku-buku komunisme Marxisme, Leninisme, Nietzhe, sampai Teori Quantum. Inilah yang menciptakan serta membentuk aku yang dulu. Aku menganggap semuanya serba dapat dinalar logika, dan begitulah aku. Aku adalah orang yang selalu berlogika untuk memecahkan masalah tentang Tuhan. Tuhan ada? Tapi aku tidak berdoa dan tidak juga pergi ke gereja, namun tetap bisa makan dan hidup senang. Untuk apa aku perlu Tuhan? Kita itu Tuhan dari diri kita masing-masing. Saking sombongnya aku engga tertarik dengan orang yang miskin. Orang miskin berarti malas!

Aku bias bilang begitu, karena aku memang tidak membutuhkan bantuan dari siapapun. Saat karirku naik dan ikut tour kemana-mana, tidak ada seorangpun yang menjelek-jelekan aku. Semua memuji aku, dan diusia yang masih 20-an tahun itu aku menjadi besar kepala. Penghasilan yang luar biasa menjadikan aku gila. ?I am Lizard King?. Dengan kemampuan bermain gitarku sebagai seorang seniman musik, aku bisa mendapatkan apa saja. Namun semuanya berbalik, ketika ayahku sakit dan meninggal. Disitulah awal kejatuhanku. Aku baru menyadari, ketidakhadiran ayah ternyata sangat berpengaruh buat diriku dan aku mengakui keluarga sangatlah penting.

Terus-terang saja, aku dulu menggunakan narkoba bukan karena pengaruh, tapi dari life style (gaya hidup). Rasanya tanpa narkoba aku tak bisa hidup. Aku memang seorang pemusik sejati, bahkan kubaktikan diriku dan dedikasiku hanya untuk music rock and roll, termasuk seperti gaya hidupnya dengan mentato tubuh. Namun karena gaya hidup rock and roll yang tidak terkontrol, semuanya habis dalam waktu sekejap, rumah, mobil, management-ku, studioku, semua habis terjual. Aku drop sampai waktu itu mencoba bunuh diri dengan satu gram sabu-sabu murni di kedua lenganku.

Kemudian aku menelpon ibuku, ?Saya mau menyusul bapak, saya minta maaf sudah mengecewakan bapak?. Secara medis aku sudah mati. Kalaupun selamat dokter bilang aku akan terserang stroke. Tapi kenyataan yang kualami tidak! Aku masih hidup dengan selang infuse di tubuhku. Tuhan belum mau aku mati. Saat itu aku menangis. Aku merasa kecil sampai-sampai tidak kenal siapa aku dulu.

Ketika itu ak mengakui ?saya punya masalah? dan mengalahkan kesombonganku selama ini. Mestinya saat aku bunuh diri, aku lalu dibenci! Tetapi kenyataanya apa yang ku pikirkan itu salah. Semua keluarga berbalik mengasihiku. Aku sadar ?keluarga harus bersama? bahkan dalam saat jelek sekalipun. Inilah yang benar-benar mengejutkan aku, ternyata keluargaku masih mencintai meski aku sudah meninggalkan mereka sendirian mengurus ayahku. Sementara ketika mataku terbuka kudapati ibu setia menungguku.

Di depannya kubersimpuh, bersyukur dan memohon ampun. Kepada Tuhan aku berdoa, ?Tuhan gue kan jarang minta tolong ama lu, sekali ini saja gue minta tolong!? Minta tolong apa? Aku sendiri juga nggak tahu, pokoknya saat itu ungkapan yang keluar dari relung hatiku hanyalah minta tolong! Saat ini aku sudah berubah, aku telah sadar, dan untuk itu niatku tidak lain hanyalah ingin membantu sesamaku entah lewat jalan apapun yang baik yang akan kulakukan. Karena aku hanya bisa berkarya dibidang musik, aku lantas mengamen menghibur orang lain. Aku ingin sekali seperti bapak yang telah menghadap Bapa di Surga yang bisa ngomong sama Tuhan, ?Kalau karena saya harus masuk neraka karena Yesus, ya.., saya rela.?

Hidup saat ini bagiku terasa sangat luar biasa! Aku yakin apa yang kulakukan untuk sesame itu kulakukan untuk Yesus juga. Di biara, orang bisa berdoa setiap hari, tetapi apakah mereka melakukan sesuatu untuk orang lain? Hidup ini harusnya begitu, ini bukan bentuk rasa terimakasih karena aku nggak jadi mati, tetapi karena aku merasa itu tugas dan kewajibanku. Aku punya perjanjian dengan Tuhan, ?kalau saya sukses, saya akan lakukan a, b, c, d, ?!

Lebaran kemarin aku bilang sama ibu. ?Saya mau ngaku dosa,? dan semua keluargaku kaget. Usai itu kepercayaanku semakin teguh. Sejak belasan tahun lalu aku melupakan Tuhan dan meninggalkan-Nya, kini aku mau mengaku dosa dengan apa yang dulu tidak pernah kuakui ada. Aku ingin kembali kejalan dimana Tuhan menghendaki harus kuakui dalam penziarahan hidupku ini. Sekarang aku sungguh percaya Tuhan itu baik, Tuhan itu maha pengasih dan penyanyang, dan Tuhan itu maha pengampun. Ia-lah eternal Alfa dan Omega dari hidup yang kumiliki ini. Hanya kepada-Nya dan untuk-Nya ku mau berbakti melalui mereka yang akan saya tolong kelak setelah akhir dari perjuangan pemulihan diriku yang kujalani. (Sumber: www.bnn.go.id)
Selengkapnya